menjaga bumi berarti menjaga kehidupan penerus bangsa

Belajar dari sudut lain : sampah - sampah berharga…


ini hanya catatan lama yang saya post di note Fb…

———————————————————————————————————————————–

Baru saja hendak memulai lagi rutinitas yang lama terpending akibat harus berkutat dengan laporan hasil, rancangan pabrik yang ga siap – siap. Tiba- tiba abjad “limbah dan teknik kimia” kembali merajai fikiran. Ya, limbah, ataupun sampah yang bagi sebagian orang dianggap tidak ada gunanya ternyata justru punya banyak peran dalam hidup. Contoh nya saja penelitan pertama saya (semoga ada riset lanjutan yang lebih “wah”), penggunaan rumput teki yang lazim ditemukan di pinggir jalan, sebagai bahan penghambat e.coli

teringat lagi pagi- pagi buta, tahun yang lalu selama hampir dua bulan selalu dihiasi dengan “merumput”, sambil berkejaran dengan dentang waktu , karena lab juga harus disapa meskipun bahan baku penelitian belum cukup untuk ekstraksi (pemisahan zat dengan bantuan pelarut tertentu) rumput teki tersebut. Namun, langkah mau tak mau harus dibawa jauh – jauh (sekitar 10 – 15 menit menuju lab angker(katanya sih) di lantai tiga yang jarang dipilih masyarakat penghuni teknik kimia Karena kesan angker tersebut.(baca: berkutat dengan makhluk halus ex: mikroba dan kawan2nya) yang menurut saya sendiri ladang latihan sabar.

Ya, saya harus begitu perhatian terhadap makhluk halus tersebut, makanan harus dijaga , kondisi lingkungan harus sesuai, suhu diatur agar tidak kelewat panas yang berdampak pada kematian mikroba tersebut. De el el…satu yang tak bisa dipungkiri bidang bioproses ataupun yang berkaitan dengan makhluk halus merupakan pilihan yang sangat – sangat jarang dilirik mahasiswa, padahal banyak keutamaan di baliknya.

Dan entah angin apa yang membawa saya sampai mau berada di antara makhluk – makhluk halus(MMH)itu. Seingat saya waktu mata kuliah mikrobiologi di kelas, saya termasuk sosok yang tak mampu menyerap dengan baik apa yang disampaikan dosen, ya, Karena tak terlalu tertarik ke arah makhluk halus, dan ternyata garis hidup membawa saya menekuni bidang ini. Mulai mencari literatur mengenai “MMH” tersebut, mulai dari siklus hidup, media hidup, dan juga antihidupnya (maksudnya antimikroba yang bisa digunakan untuk melenyapkan kehidupannya). Tolong jangan klaim saya kejam, kerana secara tak langsung telah menjadi pembunuh, karena yang saya bunuh adalah bakteri pathogen , yang merupakan penyebab penyakit bagi manusia, contoh escherichia coli, sahabat baik saya selama riset, yang tergolong rekan baik hati, Karena tak susah ditumbuhkan. namun kemudian, mohon maaf sahabat, aku harus memebunuh mu demi riset dan ujung2 demi memenuhi salah satu syarat dari fakultas.

Bertolak dari definisi limbah sendiri, yaitu sesuatu yang tidak digunakan lagi karena dianggap sudah tidak memiliki nilai, ataupun memang tidak ada punya manfaat sama sekali sejak kemunculan awalnya.
Padahal diluar sana , (dipantau dari kaca mata teknik kimia) begitu banyak limbah yang bisa dijadikan barang - barang istimewa. Contohnya saja rumput liar yang sering dikeluhkan Karena mengganggu pemandangan, (baca : semak) namun ternyata memiliki begitu banyak manfaat di bidang kesehatan, yang tentu saja berasal dari kandungan senyawa kimia yang ada di dalamnya. Menguak misteri kandungan senyawa kimia dari bahan alam memang menyenangkan, namun perlu proses panjang, dimulai pencarian metode yang tepat untuk mendeteksi keberadaan senyawa2 tersebut. Semua ini sendiri bertolak dari pengalaman masyarakat pedesaan yang menggunakan ramuan obat – obatan dari tanaman alam yang ternyata selanjutnya dijadikan para peneliti sebagai acuan mengadakan riset lebih lanjut.

Bahkan beberapa limbah , ternyata disinyalir dan telah dibuktikan dengan riset mampu menyerap bahan – bahan beracun (missal kulit kopi , ternyata bisa menyerap salah satu logam berbahaya jens cadmium*). limbah lainnya , contoh wadah air mineral yang berbahan plastik bisa didaur ulang menjadi berbagai ornamen cantik did unia fashion. bahkan pecahan kaca yang hanya menyipitkan mata, karena harus ekstra hati - hati ditangani, ternyata mampu diolah menjadi keramik (lupa sumbernya).

analogikan dengan mereka yang sering dianggap sampah. sulitkah kita belajar dari alam yang hadirkan sejuta rahasia kekayaan dibalik keberadaan beberapa hal yang tiada dianggap special. Belum tentu mereka yang sekarang ini berposisi sebagai sampah di mata masyarakat akan selamanya menjadi sampah.

sampah

SUMBER GAMBAR

sesekali kita perlu menggunakan sudut pandang yang berbeda. Melirik juga pengalaman masa lalu, dimana kenyataan yang terjadi dari mereka yg sekarang menjadi org2 besar, tak sedikit yang pernah berkutat dengan dunia persampahan… ya, dunia yang acapkali disinggung sebagai dunia yang mencemari dunia lainnya. Namun ternyata , setelah mereka bangkit dari dunia persampahan mereka, sosok2 kuat lahir dan siap menghantam segala tantangan zaman, bahkan mampu menjadi rantai yang menarik golongan2 sebelumnya menuju gerbang perbaikan. dan merekapun mampu mempercantik dunia dengan prestasi dan catatan kebaikan yang luar biasa.

karena putih tak kan lahir tanpa spectrum warna yang saling menyatu dan karena dibalik gunung sampah ada harta karun yang harus digali

Adakah kita begitu mulia

Hingga tutup mata akan cela diri

Pejam pula dari misteri tinggi pekerti

Berselimut dalam pribadi yang tak tersapa rapi

*Int. J. Environment and Pollution, Vol. X, No. Y, XXXX

7januari 2010
meureubo Hardvard,
dikala tersisa satu nyala

jangan asal buang kertas


ketas berserakan

Sebagai seorang mahasiswa kertas adalah salah satu teman akrab yang tak bisa lepas dari hari ke hari, semester ke semester. Semakin bertambah usia di bangku perkuliahan semakin besar jumlah kertas yang harus dikeluarkan , dan sering kali terbuang percuma. contohnya saja saya yang harus mengikuti beberapa lab dari awal kuliah. Dimana masing – masing laboratorium ini menugaskan pratikannya membuat laporan hasil partikum. Dijurusan saya, untuk masalah laporan ini, bukanlah hal yang mudah, tidak dengan sekali print langsung ACC, alias diterima para asisten. Pratikan harus berjuang beberapa kali menawarkan laporan lalu dicorat – coret beberapakali hingga akhirnya acc. Nah kebayangkan berapa kali harus gonta – ganti kertas. Tapi syukurlah kalau untuk masalah ini baik antara pratikan dan asisten seperti sudah saling memahami, bagaimana penghematan terhadap penggunaan kertas . Setelah laporan pertama diterima, maka laporan berikutnya yang merupakan laporan perbaikan diperbolehkan menggunakan kertas serupa , diprint dibelakangnya agar lebih hemat, hal ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun (saya kurang tahu di luar sana diperbolehkan atau tidak).

Setelah jadi dan layak cetak barulah laporan harus diprintkan dikertas bagus. Begitu juga dengan   para dosen. Sebagai mahasiswa jurusan Teknik Kimia  Unsyiah  Banda Aceh saya harus melalui 3 seminar dan satu sidang akhir, dimana masing - masing seminar didahului konsultasi dengan dosen pembimbing. Tiap kali konsul bisa ditebak selalu saja ada halaman yang harus diganti, dandemi peghematan , kertas tadi atas  kemakluman dari dosen juga, mengingat biaya kertas juga semakin melambung, maka sama pula dengan kasus di atas, dibenarkan mengeprit  dibagian belakang.

Lalu sisa kertas yang satu sisinya masih bagus ternyata masih bertumpuk dikamar kosan saya, selanjutya saya jadikan bahan untuk mading, yah, berhubung saya sering menulis puisi, maka setelah mengprintkan , kertas tersebut saya potong melekuk- lekuk agar terlihat lebih indah, serta menambahkan tempelab warna – warni dimading hijau saya..( maklum maniak hijau)…so ga perlu tambahan biaya untuk membuat mading lebih hidup. sebagian lagi saya jilid dan dimanfaatkan untuk catatan ataupun digunakan untuk mencorat - coret naskah tulisan.. :)

Nah lalu bagaimana kelanjutan setelah kertas yang diprint bolak – balik itu? Yah karena etika juga harus ada, sangat tidak mungkin kami para mahasiwa setelah laporannya diACC mencetak dengan lembaran bolak – balik. Lembar – lembar  tadi kalau saya pribadi lebih sering menggunakan untuk bebrbagai keperluan bahkan  saya sendiri sampai sekarang masih menyimpannya dalam dus – dus di dalam kamar, yah meski itu adalah sampah bukan berarti tidak berguna, sesekali bisa digunakan untuk menyerap minyak  yang belepotan dikompor , kertas- ketas tadi sering juga digunakan untuk alas meja ataupun rak buku dan lemari.praktiskan?? dan kalau ada sesi bersih2 ketas tadi bisa digunakan untuk mengelap kaca , tinggal basahi sajalalu ditempel deh dikaca. Oya satu lagi yang tak kalah penting setiap kali ada perjalanan jauh yang mengharuskan saya membawa beberapa benda pecah belas, misal cangkir kecil, kertas bekas ini bisa saya manfaatkan terlebih dahulu untuk membalut barang – barang tersebut agar tidak pecah karena goncangan.

Sebagai seorang mahasiswa kertas adalah salah satu teman akrab yang tak bisa lepas dari hari ke hari, semester ke semester. Semakin bertambah usia di bangku perkuliahan semakin besar jumlah kertas yang harus dikeluarkan , dan sering kali terbuang percuma. contohnya saja saya yang harus mengikuti beberapa lab dari awal kuliah. Dimana masing – masing laboratorium ini menugaskan pratikannya membuat laporan hasil partikum. Dijurusan saya, untuk masalah laporan ini, bukanlah hal yang mudah, tidak dengan sekali print langsung ACC, alias diterima para asisten. Pratikan harus berjuang beberapa kali menawarkan laporan lalu dicorat – coret beberapakali hingga akhirnya acc. Nah kebayangkan berapa kali harus gonta – ganti kertas. Tapi syukurlah kalau untuk masalah ini baik antara pratikan dan asisten seperti sudah saling memahami, bagaimana penghematan terhadap penggunaan kertas . Setelah laporan pertama diterima, maka laporan berikutnya yang merupakan laporan perbaikan diperbolehkan menggunakan kertas serupa , diprint dibelakangnya agar lebih hemat, hal ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun (saya kurang tahu di luar sana diperbolehkan atau tidak).

Setelah jadi dan layak cetak barulah laporan harus diprintkan dikertas bagus. Begitu juga dengan   para dosen. Sebagai mahasiswa jurusan Teknik Kimia  Unsyiah  Banda Aceh saya harus melalui 3 seminar dan satu sidang akhir, dimana masing - masing seminar didahului konsultasi dengan dosen pembimbing. Tiap kali konsul bisa ditebak selalu saja ada halaman yang harus diganti, dandemi peghematan , kertas tadi atas  kemakluman dari dosen juga, mengingat biaya kertas juga semakin melambung, maka sama pula dengan kasus di atas, dibenarkan mengeprit  dibagian belakang.

Lalu sisa kertas yang satu sisinya masih bagus ternyata masih bertumpuk dikamar kosan saya, selanjutya saya jadikan bahan untuk mading, yah, berhubung saya sering menulis puisi, maka setelah mengprintkan , kertas tersebut saya potong melekuk- lekuk agar terlihat lebih indah, serta menambahkan tempelab warna – warni dimading hijau saya..( maklum maniak hijau)…so ga perlu tambahan biaya untuk membuat mading lebih hidup. sebagian lagi saya jilid dan dimanfaatkan untuk catatan ataupun digunakan untuk mencorat - coret naskah tulisan.. :)

Nah lalu bagaimana kelanjutan setelah kertas yang diprint bolak – balik itu? Yah karena etika juga harus ada, sangat tidak mungkin kami para mahasiwa setelah laporannya diACC mencetak dengan lembaran bolak – balik. Lembar – lembar  tadi kalau saya pribadi lebih sering menggunakan untuk bebrbagai keperluan bahkan  saya sendiri sampai sekarang masih menyimpannya dalam dus – dus did alam kamar, yah meski itu adalah sampah bukan berart tidak berguna, sesekali bisa digunakan untuk menyerap minyak  yang belepotan dikompor , kertas- ketas tadi sering juga digunakan untuk alas meja ataupun rak buku dan lemari.praktiskan?? dan kalau ada sesi bersih2 ketas tadi bisa digunakan untuk mengelap kaca , tinggal basahi sajalalu ditempel deh dikaca. Oya satu lagi yang tak kalah penting setiap kali ada perjalanan jauh yang mengharuskan saya membawa beberapa benda pecah belas, misal cangkir kecil, kertas bekas ini bisa saya manfaatkan terlebih dahulu untuk membalut barang – barang tersebut agar tidak pecah karena goncangan.

Banda Aceh, 21 MAret 2010

(copast dari blog Wp , menyesuaikan tema blog ini)

sumber gambar di sini

selamat hari bumi


hari ini hari bumi.

aku mengenal bumi ini , sejak tangisanku membahana bersama senja yang mulai merambat menuju malam. Bumi ini hijau, dan akan terus hijau jika kita peduli dan mau berkeras bahu membahu membenahi apa - apa yang sudah mencacati bumi.

mulai dari penghematan kertas dalam artian tidak seenaknya saja membuang kertas. coba hitung berapa banpohon yang sudah ditebang untuk menghasilkan kertas. lalu masalah sampah plastik yang sulit terurai oleh mikroorganisme, alangka baiknya bila kita mengurangi penggunaan kantong kresek mengganti dengan penggunana tas kain atau wadah khusus saat berbelanja de el el..

masih banyak yang harus dituangkan…

tunggu kelanjutannya..:D